LAKI - LAKI
Pagi itu di sekolah, seperti biasanya semua orang di kelas sedang sibuk – sibuknya mengerjakan tugas yang belum diselesaikan di rumahnya masing – masing, walaupun ada diantaranya yang memang malas untuk mengerjakan tugas. Ketika semua itu terjadi Haris datang. Ia laintas bertanya ada pr apa hari ini, setelah mengetahuinya Haris pun duduk di bangkunya. Lantas ia membuka bukunya dan dilihatnya tugas hari itu, dan syukurlah ia telah mengerjakannya. Fajar pun datang menghampirinya, dan dipinjamnya buku tugas Haris. Kemudain ia mendengar ada seseorang yang memanggilnya, ia mencoba mencari dari mana asal suara itu dan ternyata suara itu berasal dari balik pintu yang tentunya berada di luar ruangan. Ia pun mendatangi asal suara itu, dan dilihatnya sesosok wanita yang memanggilnya. Ternyata itu Rista, sosok wanita yang ia kagumi bahkan Rista sering hadir dalam mimpinya. Haris mulai merasa sedikit gelisah, jantungnya mulai berdetak lebih kencang, aliran darang mengair lebih cepat dari biasanya keringat dingin keluar dan otaknya mulai tidak konsentrasi dan terjadi sedikit lamunan aneh. Rista melihatnya kemudian menegur Haris “hey, apa yang kamu lamunin?”. Haris terkejut ditengah lamunannya itu dan berbicara dengan sedikit terbata – bata. Ternyata Rista datang untuk mengingatkan Haris untuk menghadiri rapat sepulang sekolah dan Haris pun menyanggupinya.
Waktu telah menunjukan pukul tujuh yang berarti saatnya masuk. Pelajaran pun dimulai, namun Haris tidak konsentrasi dengan pelajaran yang dihadapinya saat itu. Ia masih teringat akan seorang sosok wanita yang menghampirinya pagi tadi. Ia berusaha berkonsentrasi dengan pelajarannya itu, namun apa daya ia sulit untuk melupakan wajah dari sesosok Rista. Kemudian terjadi sedikit kebimbangan di dalam hatinya, ia mulai berpikir untuk “menembak” nya, namun ia merasa tidak percaya diri karena tidak ada kesiapan dan keraguan untuk menembak Rista karena Rista merupaka wanita yang pasti setiap lelaki yang melihatnya akan tertarik, entah itu pada pandangan pertama atau pun bagi orang yang sudah mengenalnya. Rista merupakan sesosok wanita yang selain memiliki wajah yang seperti selebriti dia pun memiliki kemampuan – kemampuan yang membuatnya sepesial ditambah lagi prestasinya baik dalam bidang akademik maupun nonakademik. Namun akhirnya dengan susah payah Haris pun dapat lebih berkonsentrasi dengan pelajarannya, karena ia tersadar dengan ujian yang sudah di depan mata. Ia pun mulai mengikuti pelajaran matematika yang tengah berlangsung dan memang pada saat itu pelajarannya tidak terlalu menerangkan mengenai materi hanya sedang melakukan tanya jawab dan penjelasan kembali mengenai materi yang telah diberikan.
Waktu menunjukan pukul sembilan kurang seperempat dan bel pun berbunyi. Namun setelah menunggu sepuluh menit dan anak – anak yang lainnya pun mulai ribut dan melakukan pergerakan kesana – kesini untuk mencari dan memulai membuat gosip – gosip yang memang sedang hangat di luar atau pun yang beredar di sekolah. Biasanya para cewe menggosip mengenai jadiannya anak – anak di sekolah, entah itu dari kelas sepuluh sampai kelas duabelas, bahkan gosip di kelas pun tak terlewatkan untuk diperbincangkan. Terutama sosok Heni yang merupakan salah satu daari sekian cewek di kelas itu yang banyak mengoleksi gosip – gosip terkini. Ya, mungkin seperti itulah gambaran cewek di kelas itu namun hal tersebut berbeda dengan cowok – cowok nya yang lebih banyak bergosip mengenai olahraga, baik itu dari dunia sepak bola, basket, balap, sampai balap makan kerupuk (mungkin lagi tujuhbelasan). Haris pun mulai mencari orang – orang yang sedang berkumpul dan melihat apakah ada perbincangan yang menarik, namun sebelum Haris mengikuti perbincangan yang sedang berlangsung datanglah satpam sekolah dan memanggil Haris. Kemudian satpam tersebut memberikan secarik kertas kepada Haris yang ternyata itu berisi tugas yang diberikan guru yang harusnya mengajar pada jam tersebut. Rupanya guru tersebut sedang sakit jadi tidak bisa memaksakan diri untuk mengajar. Satpam pun pergi dan Haris berusaha mendiamkan anak – anak yang sedang ribut dan dengan suara yang lantang Haris berbicara dengan sedikit teriak kepada teman – temannya mengenai tugas yang ada, namun anak – anak malah kegirangan karena tidak ada guru yang mengajar. Haris pun memberikan kertas tersebut kepada sekertaris untuk menulisnya di papan tulis. Namun apa daya anak – anaknya tidak menanggapinya dan hanya mengacuhkan tugas tersebut. Ya mungkin ini lah yang disebut masa indah disekolah.
Akhirnya dicapai persetujuan untuk tidak mengerjakan tugas tersebut, mungkin karena pelajaran fisika yang menjadi tugas tersebut dan memang disebut – sebut sebagai salah satu pelajaran mematikan walaupun mereka memang masuk dalam kelas IPA. Akhirnya tugas diabaikan dan perbincangan pun dimulai kembali. Haris pun melihat Yudha yang sedang duduk di bangku dekat jendela sedang membuka laptopnya. Ia pun penasaran dan mendekat ke arah Yudha. Ternyata Yudha sedang mendownload game yang terbaru. Lalu Dadan dating mendekati dan berbicara kepada Yudha untuk main PES akhirnya disetujui dan Dadan kembali ke bangkunya untuk mengambil usb game pad nya. Akhirnya pertandingan sepak bola virtual pun dimulai. Awalnya hanya Yudha dan Dadan yang bermain sementara Haris hanya melihat pertandingan tersebut namun pertandingan tersebut membuat perhatian kaum adam yang lainnya dan PES challange pun di mulai. Tanpa terasa pertandingan demi pertandingan di lewati dan terdengar lah bunyi bel yang menandakan saatnya istirahat.
Haris pun keluar dari kelas untuk pergi ke toilet dan di perjalanan ia melihat Rista dari kejauhan, hatinya mulai bimbang, perasaan seperti tadi pagi kembali muncul seolah demam yang sedang kambuh. Kembali muncul pikirannya untuk menembak Rista, ia terus bergelut dengan perasaan disaat langkah demi langkah semakin mendekat ke arah Rista. Hatinya merasa sangat tersiksa dengan keadaan tersebut, ia hanya terpikir apa yang harus ia lakukan dengan keadaan ini. Apa ia harus menembak Rista atau hanya diam seolah tidak melihatnya. Berbagai kemungkinan muncul dalam pikiran Haris dan pikiran tersebut terus mempengaruhi pikirannya. Semakin dekat dengan Rista dan hatinya tambah tidak karuan terus menerus kembali ke permasalahan apakah harus di tembak atau tidak. Haris pun terus berjalan dan ketika Rista menyapanya ia tersentak kaget dan Haris hanya melontarkan senyuman kepada Rista, Ristapun membalas senyuman Haris dan tak ada kejadian apaun yang sepesial. Sungguh sebuah kerugian bagi Haris karena keraguannya. Dan ia pun menyesalinya di dalam toilet. Ia terus terpikir kejadian yang tadi dan ia merasa bahwa dirinya bukan seorang laki – laki sejati. Ia merasa dirinya seperti ayam yang penakut, yang sudah kalah sebelum bertanding.
Haris kembali ke kelasnya dan masih dalam keadaan sedih, wajahnya ditekuk, matanya seperti orang yang tak punya arah dan tujuan. Lamunan dan perasaan aneh menjalar dalam tubuhnya. Hatinya bersedih namun ia tak sanggup untuk mengeluarkan air mata. Habib yang melihat Haris seperti itu mencoba untuk menghampirinya. Ia pun berkata kepada Haris “Ris, ada apa? Ko wajah kamu lesu kaya gitu?”. “Biasa anak muda” dengan nada sedih haris menjawabnya. “Pasti masalah wanita ya Ris?” sahut Habib. “ya begitulah bib” jawab Haris. “emang ada apa, coba kamu ceritakan kepada saya apa gerangan terjadi, siapa tahu saya bisa membantu” kata Haris. “Begini loh a.....” kata haris dengan panjang lebarnya menceritakan semua yang telah terjadi. “Menurut Habib, apa saya pantas untuk disebut sebagai laki – laki jika saya takut karena hal seperti itu?” tanya Haris. Habib lantas menjawabnya “Nih Ris, yang disebut sebagai laki – laki bukan karena ia dapat menembak seorang wanita, bukan karena ia dapat merayu seorang wanita. Tapi yang namanya seorang laki –laki adalah orang yang mampu membuat keputusan tanpa ada keraguan di hatinya, mampu berpikir dan dapat mempertanggung jawabkan apa yang telah ia lakukan. Dan ingat seorang laki – laki itu adalah sosok seorang pemimpin dan Haris harus bisa memimpin diri Haris ke arah yang lebih baik dan jangan cepat berputus asa atas apa yang terjadi sekarang, tataplah kedepan masih ada kehidupan yang menanti di depan mu. Akan lebih banyak lagi rintangan dan halangan sesudah ini dan kamu harus menghadapinya sendiri.”. Haris pun terdiam dan mulai tersenyum. Melihat ke arah Habib dan mengucapkan terimakasih atas apa yang telah diberikan kepadanya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
silahkan anda berkomentar