Jumat, 07 Januari 2011

ANNAS

ANNAS dan PR

Pagi itu di gerbang sekolah, seperti biasa saya datang dengan cemas dan tergesa – gesa karena teringat akan adanya tugas matematika yang kebetulan hari itu merupakan pelajaran pertama setelah pembiasaan. Saat itu saya datang pukul enam lebih seperempat dan dengan menggunakan angkutan umum seperti biasanya. Lantas saya pun berlari dengan cepat ke kelas, cukup jauh juga dan memang cukup membuat badan gerah dan berkeringat. Sesampainya di kelas rasa lelah dan cemas terobati karena ada tiga orang teman saya yang sedang mengerjakan tugas matematika dan itu berarti saya bisa mengerjakannya dengan leluasa karena tidak terlalu banyak orang. Saya duduk di bangku saya dan saya membuka tas saya untuk mengambil buku tugas metematika. Saya pun ikut mengerjakannya dan akhirnya tugas itu pun selesai kurang lebih pukul enam lebih limapuluh menit.
Dan ketika tugas saya selesai ternyata sudah banyak orang di kelas, tapi saya tidak melihat Annas, “kemana dia?”tanya ku dalam hati. Tak lama setelah itu saya pun melihat Annas dari luar dan masuk ke dalam kelas. Lantas saya pun bertanya padanya “Nas, gimana? Tugas matematika sudah selesai belum?”. Annas pun menjawab dengan wajah yang heran “Tugas apaan Dul?”. “Tugas Matem” sahut saya dengan nada datar. “Waduh, aku lupa. Mana jam pertama lagi” sahut Annas dengan raut cemas. Dan Annas pun membuka tas nya dan mulai melihat kedalam sambil diotak atik tasnya untuk menemukan buku tugas matematika dan peralatan menulisnya. Annas pun menemukan peralatan tersebut dan meleirik kepada saya dengan raut yang aneh seraya bertanya “Dul, kamu udah belum tugas matematika?”. “Weits, jelas, sudah dong” jawab saya aga sombong. Annas pun mendekat dan mengambil buku tugas saya. Dia duduk di sebelah saya dan mulai membuka buku tugas saya. Halaman demi halaman dibukanya untuk menemukan dimana letak tugas matematika tersebut.
Akhirnya halaman yang dicari pun terbuka. Dibacanya dulu dengan teliti tugas itu dan dia mulai membuka bnuku tugasnya. Dia pun menemukan halaman yang kosaong dalam buku tugasnya, dan mulai menuliskan judul dari tugas tersebut. Wajahnya terlihat sangat cemas, tergamban mulai menuliskan judu, ________________________________________________________________________________________________ar bagaimana ia berkonsentrasi sembari mulutnya kumat – kamit dan halisnya mengerut, maklum lah waktu menuju bel masuk sudah sangat dekat, kurang lebih sekitar lima menit lagi. Annas dengan cepatnya menulis, wajahnya semakin serius dan tangannya semakin gesit dalam menuliskan satu demi satu angka dan huruf yang ada di depannya itu. Ketika itu Yudha dating menghampiri dan mengajak ngobrol pada saya, dan sepertinya juga mau berbuat jahil kepada Annas. Yudha memang sudah selesai mengerjakan tugasnya dan ia pun mulai melancarkan serangan jahil kepada Annas. Mula – mula Yudha menutup buku saya dengan wajah polosnya sembari berjalan kedepan, yang seolah – olah ia tidak melakukan apa – apa, Annas pun hanya terdiam sambil kembali membuka buku saya. Yudha yang melihat gelegat Annas yang biasa – biasa saja mulai memikirkan serangan kedua, ia dating kembali menghampiri bangku dan duduk disebelah saya dengan alih – alih untuk ngobrol dengan saya. Namun ternyata ia punya maksud lain yaitu ia mulai mendorong saya untuk terus menggeser Annas supaya dia terganggu dalam mengerjakan tugasnya tersebut.
Rupanya hal itu cukup mengganggu Annas, dibuktikan dengan Annas yang tidak berkonsentrasi lagi pada tugas yang ada dihadapannya kegiatan menulisnya pun mulai terganggu. Annas yang kelihatannya mulai risih dengan keadaan pun mulai bertindak. Dibawanya buku saya dan dia berjalan menuju bangkunya. Saat itu Fajar sedang duduk di sebelah kana bangku dan Fajar merupakan teman sebangku Annas. Sampai disana Annas meminta Fajar untuk pindah ke sisi kiri bangku, karena memang posisi duduknya seperti itu, dimana Annas sebelah kana dan Fajar sebelah kiri. Akhirnya Fajar pun menuruti kata – kata Annas dan mulai bergeser ke sebelah kiri bangku. Ketika Annas mau saja duduk terdengar suara bel berbunyi, raut mukanya semakin cemas, keringatnya bercucuran semakin deras, tangannya gemetaran dan banyak hal yang dirasakannya. dan ia pun mulai kembali menulis karena memang waknu mengejar – ngejar dia. Dengan waktu tersisa kurang lebih limabelas menit, itu pun ada pembiasaan pembacaan Alquran.
Ketika itu pembiasaan pembacaan Alquran pun dimulai yang dipimpin oleh Bapak H Maman B. awalnya saya ingin khusu dalam membaca Alquran namun ketika saya menoleh kea rah kiri saya melihat Annas yang sedang kesibukan dan sedang terburu – buru dalam mengerjakan tugasnya. Akhirnya sayapun hilang konsentrasi dan mulai melirik kembali gelegat Annas yang sedang sibuk sendiri. Saya melihat dia sedang menulis tugas dengan cepatnya, tapi sejauh ini saya hanya melihat dia baru menyelesaikan sepertiga dari tugas yang ada dan itu berarti masih banyak yang belum ia kerjakan. Namun ketika sedang asyik melihat sesuatu yang unik yang memang cukup sering terjadi di kalangan siswa maupun siswi ini Yudha tiba – tiba bertanya pada saya. “Dul, lagi ngapain kamu?” kata Yudha, “Biasa anak muda” jawab saya singkat. “Emang ada yang lucu dul?” Tanya Yudha kembali, “Ah engga, Cuma asik aja liatin si Annas yang sedang kecemasan ngerjain tugas matematika” jawab saya. “oh, heheheh. Dia sih datangnya telat, coba kalau aga pagian mungkin sekarang dia sudah selesai ngerjain tugasnya” katanya lagi. “Ya, kurang hoki aja dianya” balas saya.
Setelah itu saya mulai tidak memperhatikan Annas dan mulai kembali membaca ayat – ayat suci Alquran. Namun tiba – tiba saya dikagetkan oleh Yudha dengan mengatakan sesuatu kepada saya. “Tuh, lihat si Annas, mukanya tambah parah” kata Yudha sambil tersenyum. “Eh, lihat Yud, kayanya pulpennya habis” kata saya sambil hampir tertawa. Saat itu memang terlihat Annas yang sedang kebingungan dengan pulpennya yang habis, dia terlihat berkata sesuatu kepada Fajar dan Fajar hanya menggelengkan kepala, kemudian dia berkata kepada perempuan didepan bangkunya yang bernama Dede, dan Dede hanya menggelengkan kepala. Mungkin Annas sedang kesulitan untuk mencari pinjaman pulpen, “kasihan juga ya Annas” piker saya. Kemudian saya memanggil Annas dan melemparkan pulpen saya kepada Annas dan dia pun kembali mengerjakan tugas yang ada dihadapannya itu. Dan saya lihat tugasnya hanya tinggal sepertiga lagi dan mungkin cukup menyelesaikannya dalam waktu yang hanya tinggal tujuh menitan lagi. Dan terlihat kembali wajahnya yang mul;ai serius bahkan lebih serius dari sebelumnya.
Ketika itu saya aga terheran – heran, karena biasanya pada saat pembiasaan pembacaan ayat suci Alquran suka ada guru mata pelajaran di jam pertama, namun ini tidak ada, tapi saat itu saya menganggapnya biasa saja karena memang suka ada guru yang datang ke kelas setelah pembiasaan pembacaan ayat suci Alquran. Terfokus kembali pikiran saya kepada Annas yang sedang tergesa – gesa dalam mengerjakan tugasnya, pembacaan ayat suci Alquran pun sudah beres, hanya tinggal pembahasan mengenai isi kandungan ayat tersebut dan berdoa. Waktu menunjukan pukul tujuh lebih duabelas yang artinya hanya tersisa tiga menit lagi bagi Annas. Namun sepertinya Annas cukup lega, karena memang yang saya lihat dia hanya perlu mengerjakan kurang lebih satu halaman lagi dan tentunya bagi penyontek professional seperti Annas ini tidak memerlukan waktu yang lama. Dan ternyata benar yang saya duga, terlihat Annas yang memang sudah hamper pada baris – baris terakhir dalam pekerjaannya itu.
Ketika Bapak H Maman B mengucapkan salamn yang artinya mengakhiri acara pembiasaan pembacaan ayat suci Alquran terlihatlah Annas telah selesai mengerjakan tugasnya. Dan dia melemparkan kembali pulpen yang saya pinjamkan kepadanya. Bel tanda berakhirnya pembiasaan pembacann ayat suci Alquran pun terdengar, dan berarti pula kalau akan berlangsungnya pelajaran matematika. Annas pun terlihat bernafas lega dan menghampiriku untuk mengembalikan buku tugas matematika saya. Namun setelah ditunggu cukup lama guru yang bersangkutan pun tidak kunjung datang tetapi yang dating ternyata satpam sekolah, dan ternyata guru metematika yang mengajar di kelas kami sedang sakit sehingga tidak dapat masuk kelas dan memberika tuga kepada kelas kami. Annas pun tertawa dan mengundang kami untuk tertawa, mungkin dia menertawakan atas hasil jirih payahnya yang ternyata masih ada kesempatan walaupun dia tidak mengerjakannya hari ini. Sungguh pekerjaan yang melelahkan bagi Annas. Dengan kegigihannya itu pasti bias dipakai di jalan kebenaran bukan hanya pada saat mencontek pekerjaan orang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silahkan anda berkomentar